Selasa, 23 April 2013

Contoh Cerpen Kebudayaan


Kali ini saya akan memposting tentang "Contoh Cerpen Kebudayaan". Cerpen ini pernah ku buat untuk tugas B. Ind ku hahaha.. Langsung aja Cekidott !!!

Hai kawan kawan, namaku Amanda aku berasal dari SMP Taruna Bangsa Semarang, aku duduk di bangku kelas VII tepatnya VII B. Suatu hari Guru Bahasa Indonesiaku yang bernama Bu Erni memberikan ku tugas kelompok untuk mewawancarai seseorang.
“Anak-anak saya beri tugas untuk mewawancarai seseorang, kemudian ditulis di kertas ya. Masing-masing kelompok hanya 2 anak saja, tugas di tumpuk paling lambat hari Jumaat”, pinta Bu Erni.
Spontan semua temanku membicarakan tentang tugas ini dan mencari pasangan kelompoknya masing masing. Aku pun juga mencari teman untuk ku jadikan teman kelompok ku, aku mengajak Akila untuk menjadi teman satu kelompok ku.
“Akila Akila,” panggil Amanda sewaktu di kelas.
“Iya apa?”.
“Bagaimana kalau kamu dan aku menjadi teman satu kelompok?”, ajak Amanda.
“Boleh boleh, aku juga belum dapat kelompok kok,.”
“Oh, oke oke.”
“Ngomong ngomong nanti kita mewawancarai siapa ya?”, tanya Akila.
“Bagaimana kalau kita mewawancarai Guru Menari di Sanggar Purwodadi, nanti kita mewawancarai tentang Tari Tayub asli Grobogan itu ! Kebetulan besok Minggu Ayahku mengajak ku pergi ke rumah Paman ku yang ada di Purwodadi, kamu bisa atau tidak?”.
“Oh bisa bisa, usul mu itu sangat menarik.”
“Oke kalau begitu besok kita persiapkan barang barang yang akan kita bawa untuk berwawancara di Rumah mu ya, aku kesana besok Sore sekitar jam 15.00.”
“Sipoke.”
Keesokan harinya Aku dan Akila sibuk menyiapkan perlengkapan yang akan kami bawa ke Purwodadi untuk berwawancara, semua alat yang ku butuhkan sudah siap.
“Akila, ayo kita persiapkan barangnya. Kita bawa perekam suara, buku, bolpen, dan daftar pertanyaanya.”
“Semuanya sudah ku persiapkan kok kita tinggal cari pertanyaanya”.
“Oh, kalau begitu ayo kita buat pertanyaanya,” jawab Amanda dengan semangat.
Aku dan Akila segera membuat daftar pertanyaan untuk mewawancarai Guru menari tentang Tari Tayub itu.
“Amanda, sepertinya pertanyaan kita sudah cukup nih.”
“Iya nih, Akila besok Minggu kutunggu di rumah ku jam 07.00 ya setelah itu kita berangkat ke Purwodadi bersama sama.”
“Oke, sampai ketemu Hari minggu Amanda.”
Hari yang di tunggu tunggu pun tiba ini saatnya untuk ku dan Akila pergi ke Purwodadi.
“Akila aku sudah siap nih kita berangkat yuk.”
“Ayuk, tapi nanti kita ke rumah Paman ku dulu ya.”
“Oke.”
Perjalanan selama 2 Jam yang di tempuh dari Semarang tak terasa sangat singkat. Kamo berdua sudah tiba di Kota Purwodadi, segeralah kami ke rumah Paman ku yang letaknya tak jauh dari Sanggar Tari. setelah ke Rumah Paman ku , kami cepat cepat pergi ke Sanggar Tari dimana tempat Guru Menari yang akan kami wawancarai.
Setelah sampai di Sanggar Tari tersebut, Aku dan Akila segera mencari Guru Menari di Sanggar itu. Setelah menemuinya akupun mulai bertanya tanya sambil mengelilingi Sanggar itu.
“Selamat Siang ibu,” salam kami berdua.
“Siang,” jawab Bu Rika
“Maaf mengganggu waktu ibu sebentar, saya dari SMP Taruna Bangsa Semarang mendapat tugas dari guru Bahasa Indonesia saya untuk mewawancarai Ibu,” izin Amanda dan Akila.
“Oh, oke silahkan,”
“Kalau boleh saya tau arti dari nama Tarian Tayub itu sendiri apa ya bu ?”.
“Tayub berasal dari kata Tata dan Guyub, yang artinya bersahabat dengan rasa persaudaraan tanpa persaingan dan tanpa aturan menari yang di lakukan oleh sang penari.”
“Oh , kalau Tarian Tayub ini sudah ada sejak kapan bu?”, tanya Amanda dan Akila.
“Tarian Tayub ini sudah ada sejak jaman ki Ageng Sela masih muda nak,” jawab Bu Rika dengan santun.
“Oh jadi sudah berabad abad ya bu?,” tanya Amanda dengan penasaran.
“Yap betul sekali nak.”
“Tarian Tayub itu di tarikan oleh berapa orang bu?”.
“Minimal dalam pementasan Tari Tayub di butuhkan 6 Orang Pria dan Wanita.”
“Lumayan banyak ya bu?”.
“Iya.”
“Oh, bertemakan apakah Tari Tayub itu bu?”.
“Tarian tersebut menggambarkan ungkapan rasa syukur atas keberhasilan panen atau terkabulnya doa rakyat Kabupaten Grobogan.”
“Jadi setiap setelah panen, rakyat Grobogan mengadakan pertunjukan Tari Tayub ini ya bu?”.
“Di sebagian desa di Grobogan memang masih ada yang melakukan tradisi ini, tetapi seiring dengan perkembangan Dunia yang semakin modern Tarian asli Grobogan ini semakin di tinggalkan oleh para pemuda di Grobogan ini padahal sayang jika Tari Tayub ini bisa sampai hilang.”
“Wah, bisa gawat nih kalau Budaya asli Grobogan ini hilang,” Tegas Akila.
“Iya nih,” keluh Bu Rika.
“Aku jadi pengen ikut melestarikan budaya asli Kabupaten Grobogan ini mesikipun aku ini orang Semarang?”.
“Pastinya dong, tidak harus pemuda pemudi asli Grobogan saja yang berhak melestarikan tarian ini, semua orang dari manapun yang mau menarikan tarian ini juga boleh kok.”
“Iya dong Bu, aku jadi lebih tau tentang Tarian Tayub ini, semoga kebudayaan asli Grobogan ini tidak akan punah dan hilang ya bu,” doa Amanda dan Akila kompak.
“Aamiin”.
“Oke bu, kalau begitu saya mohon pamit dulu ya bu, maaf telah menggangu waktu ibu sebentar, Makasih bu atas waktunya yang ibu berikan,” pamit Amanda dan Akila.
“Iya sama sama, kapan kapan kalau ada waktu mampir kesini lagi ya? Sanggar ibu selalu terbuka bagi siapapun.”
“Insaallah bu kalu ada waktu saya ke sini lagi kok, Saya pamit dulu ya bu, Selamat Siang Bu Rika.”
“Selamat Siang Adik adik”.
Setelah mewawancarai Bu Rika di Sanggar Tari tadi mereka menyusun kalimat wawancara tadi di kertas, sesuai dengan perintah Bu Erni. Setelah usai berwawancara mereka berdua pulang ke Semarang pukul 16.00 Sore.
Pada hari Jumaat Aku dan Akila mengumpulkan tugas wawancara tadi kepada Bu Erni, dan kami mendapatkan nilai tugas terbaik di kelasnya.
“Selamat ya kepada Amanda dan Akila yang telah berhasil mendapatkan nilai terbaik di kelas, selamat ya,” ucapan selamat Bu Erni kepada Amanda dan Akila.
“Wah aku nggak nyangka nih bisa dapet nilai terbaik di kelas.” kagum Akila.
“Aku juga sama sekali tidak menyangka nih, syukurlah kalau begitu, kerja keras kita terbalas.”
Kerja keras kami untuk berwawancara di Purwodadi pun terbayar, dengan mendapatkan nilai terbaik di Kelas. Jadi aku tak sia sia jauh jauh ke Purwodadi untuk berwawancara. Selain itu aku juga jadi tambah tau tentang kesenian Tari Tayub asal Grobogan itu dan menambah pengalaman ku.

 Sekian Cerpen dari saya, Gomen ya kalau jelek ^,^

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar